by

Jalanan Desa Simpang Pait beralih fungsi menjadi pasar dan diduga ada pungli.

Peloporonline.com – Salah satu jalan desa Simpang Pait di Kecamatan Long Ikis menjadi alih fungsi menjadi Pasar Roya Bayu baru terbesar di Kecamatan Long Ikis dikarenakan setelah dipindahkan dari pasar yang lama, alih-alih lapak pasar yang sudah disediakan untuk berjualan sepi pengunjung.

Pihak media mencoba mengkonfirmasi kepada ketua RT 8 ibu Salina pada hari minggu, 8/3/2020. Ia menjawab “iya memang benar pedagang menjadikan jalanan yang harusnya untuk kendaraan lewat dan untuk berbelanja menjadi lapak jualan dan tidak menempati kios-kios yang sudah di sediakan, karena hak ini pasar dari kecamatan yang mengelola dan saya tidak bisa berbuat banyak mas, saya cuman minta tolong di jaga kebersihannya saja kepada pengelola pasar itu sendiri karena ini masih di lingkungan RT 8 Desa Simpang Pait, tapi kenyataannya selokan banyak yang mampet jalanan becek dan di dekat lapak ikan masnya bisa lihat sendirilah sangat kotor mas ya saya mau gimana lagi mas”.

“Dan juga ada cafe di pasar itu juga yang bukanya sampai hampir subuh mas dan suaranya sangat bising, satu minggu yang lalu saya sudah tegur silahkan buka tapi hanya sampai jam 11 malam saja tapi kenyataannya malah gak di dengarkan omongan saya”, ungkapnya.

Dikesempatan yang lain media mencoba mengkonfirmasi prihal masalah pasar yang sangat komplek ini, dengan kepala pengelola Paser yang mengaku mempunyai SK dari kecamatan, bahwa ia yang ditunjuk sebagai pengelola pasar, terkait permasalahan ini saat ditemui kepala pengelola pasar Ahmad Sahili (ahmad piyek), menjelaskan” kenapa para pedagang malah berjualan ditengah jalan sedangkan sudah disediakan lapak, mereka mengaku dagangan mereka sepi karena dipindahkan dari pasar yang lama ke pasar yang baru dan pedagang sendiri yang meminta saya, kalau saya gak ngikuti mau mereka nanti dikira saya yang sok penguasa disini”.

Saat ditanya masalah restribusi yang ditarik oleh pedangan dan terdengar adanya pungli di pasar itu ia mengaku bahwa” dari pihak kami pengelola pasar kami menarik restribusi sebanyak Rp 5.000 dan dari kecamatan Rp 2.000, saya menarik segitu juga pedangang setuju saja dan tidak keberatan sama sekali, dan hasil dari tarikan Rp 5.000 itu kami gunakan untuk kebersihan, air, listrik dan keamanan, kalau Rp  2.000 yang ke kecamatan kami tidak tau larinya kemana, karena kami sendiri merasa pengelola pasar sendiri yang meperbaiki dan perawatan pasar ini dan dari pihak kecamatan tidak ada” ucapnya.

“Kalau kami dibilang pungli tolong tunjukan pungli yang seperti apa dan kami siap didudukan untuk membahas permasalahan ini kalau memang itu pungli” ungkapnya.

Saat ditanya soal cafe yang beroprasi sampai pagi ia menjelaskan “itu sebenernya dulunya bagunan yang tidak digunakan dan bisa di bilang sarang hantu, dan sangat sepi kalau malam, tapi dari teman saya punya inisiatif buat cafe, saya setuju saja karena agar tidak sepi tapi saya berpesan kalau sewaktu-waktu ada petugas yang akan membongkar dia harus siap karena bangunan itu aset pasar” ucap Ahmad Sahili (ahmad piyek). (kzw/peloporonline.com)

Comment

News Feed